Inilah Fakta 3 Perubahan Timnas Indonesia Berkat Kecemerlangan Luis Milla

Luis Milla Otak Segala Macam Kecemerlangan Timnas Indonesia U-23 - Sejak awal ditunjuk melatih Indonesia, Luis Milla memang sudah dibebani target tinggi. Tapi pencapaian di Asian Games-lah yang kabarnya menjadi penentu nasib sang pelatih.
Luis Milla Otak Segala Macam Kecemerlangan Timnas Indonesia U-23 - Sejak awal ditunjuk melatih Indonesia, Luis Milla memang sudah dibebani target tinggi. Tapi pencapaian di Asian Games-lah yang kabarnya menjadi penentu nasib sang pelatih.

Luis Milla Otak Segala Macam Kecemerlangan Timnas Indonesia U-23

Luis Milla Otak Segala Macam Kecemerlangan Timnas Indonesia U-23 – Sejak awal ditunjuk melatih Indonesia, Luis Milla memang sudah dibebani target tinggi. Tapi pencapaian di Asian Games-lah yang kabarnya menjadi penentu nasib sang pelatih. Target itu adalah mencapai babak semifinal. Jika tidak dicapai, besar kemungkinan ia akan diberhentikan. Ketua PSSI Edy Rahmayadi berulang kali memberi penegasan soal itu. Bagi Milla, ini jelas bukan perkara mudah. Ia berada di sebuah tim nasional sepakbola yang sebetulnya belum benar-benar berkembang. Namun sudah diminta mencapai target setinggi langit. Lebih-lebih, durasi kontraknya juga terbilang singkat yang artinya waktu persiapan sang pelatih cukup terbatas. Walau demikian, Milla coba memenuhinya. Ia memulai dengan melakukan banyak persiapan yang terdiri dari pemusatan latihan panjang dan –bersama PSSI— mengagendakan serangkaian uji tanding.

Dalam masa persiapan itu, Milla mesti menghadapi sejumlah masalah yang cukup pelik. Dari segi teknis, ia kesulitan menemukan penyerang lokal tajam yang sesuai dengan taktiknya. Ia sudah pernah mencoba Ilja Spasojevic, Lerby Eliandri, hingga Ezra Walian. Namun ketiganya menunjukkan penampilan yang kurang memuaskan. Ia baru menemukan solusinya dalam wujud Alberto Goncalves yang dalam sejumlah agenda uji tanding tampil baik. Kendati tidak mencetak  banyak gol. Belakangan juga dipangggillah Stefano Lilipaly yang cukup sering dijadikan tandem penyerang Sriwijaya itu di lini depan dan juga tampil baik. Masalah teratasi.

1. Disiplin dan Kekuatan Fisik

Tapi menemukan penyerang yang sesuai kebutuhan saja tidak serta-merta membuat pekerjaan menjadi gampang. Lalu ditingkatkanlah intensitas latihan. Saking intensnya, Milla bahkan sampai memberlakukan sejumlah aturan yang sifatnya nonteknis. Misalnya dengan meminta para pemain untuk tidak memakan makanan yang dapat mengganggu kondisi fisik. atau tidak sembarang menerima permintaan wawancara dari media. Apa hasilnya? Timnas Indonesia tampil garang secara fisik maupun taktik selama gelaran Asian Games. Chinese Taipei digasak, Palestina berhasil disulitkan, Laos dihajar, dan Hongkong dibikin tak berkutik.

2. Kemampuan Individu meningkat dan Mental Juara

Dari laga-laga itu, terlihat bahwa para pemain Indonesia menunjukkan perkembangan yang amat positif. Kemampuan individu meningkat dan terkontrol, fokus mereka semakin baik, karakter bermain pun mulai tampak. Selain itu, para pemain timnas tak lagi gegabah seperti dulu tiap kali membangun serangan. Bahkan saat tertinggal gol sekalipun. Di babak grup, dua kali mereka berada dalam situasi ini –tertinggal gol terlebih dahulu, namun masih bisa tampil tenang. Situasi semacam itu kembali terulang pada babak perdelapan final. Menghadapi Uni Emirat Arab (UEA) yang di atas kertas punya kualitas sedikit di atas Indonesia, timnas kita dua kali tertinggal. Bahkan, cara tertinggalnya pun amat menyebalkan, yaitu penalti yang salah satunya agak kontroversial. Namun, timnas tetap bermain tenang. Serangan benar-benar dibangun dari bawah. Jarang sekali melihat bek-bek tengah atau gelandang melepaskan umpan jauh yang lebih terlihat seperti umpan tanpa alasan.

Demikian (

Luis Milla Otak Segala Macam Kecemerlangan Timnas Indonesia U-23

)

3. Kontrol Emosi dan Ketenangan

Lebih dari itu, para pemain begitu terjaga emosinya. Memang, Hansamu Yama dan Andritany Ardhyasa sempat terpancing dengan drama-drama ala sinetron yang dibuat pemain UEA. Tapi yang mereka lakukan tidak berlebihan. Tidak sampai dengan, misalnya, menendang bola ke arah bench pemain lawan. Seperti yang dilakukan Manahati Lestusen dua tahun lalu di Piala AFF. Dengan pendekatan seperti itu, timnas akhirnya berhasil menyamakan kedudukan. Pertama lewat Alberto Goncalves di awal babak kedua. Dan kedua lewat sontekan Stefano Lilipaly jelang waktu normal memasuki akhir.

Kredit khusus jelas mesti disematkan kepada Luis Milla. Dialah otak dari segala kecermelangan itu. Instruksinya untuk meminta para pemain terus menekan dan mengontrol emosi membuat timnas bermain dengan sangat baik. Selain itu, keputusannya untuk memasukkan Septian David Maulana dan Saddil Ramdani juga punya pengaruh yang tak sedikit. Menurut Pembaca pantaskah Luis Milla dipertahankan ? Kunjungi Juga Agen Taruhan Bola Terbaik AG303.

Baca juga :

Prediksi matchweek 3 : Liverpool vs Brighton, Menurut Data Liverpool Unggul Dari Brighton

Jika Masih Bermain, 3 Pemain Ini yang Bisa Melampaui Cristiano Ronaldo dan Messi

Tidak ada Manchester United Dalam Prediksi 3 Kandidat Juara Liga Inggris Musim 2018-2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*